husband

Karena Suami Tidak Mengeluh

23:19

Sudah 2016, dan entah mengapa produktivitas wedding blog kami makin menurun saja dari tahun ke tahun. Walaupun produktivitas blognya menurun, tapi kadar cinta kami makin bertambah kok insya Allah #eaakmoment haha.

Menurut penanggalan hijriah atau kalender Islam, usia pernikahan saya dan suami sudah memasuki tahun ke-5. Alhamdulillaah, masih bisa bertahan hingga 5 tahun. Walaupun kami belum dititipi anak sampai dengan tulisan ini diketik, alhamdulillah kami bahagiaaa senantiasa. Masih seperti kemarin-kemarin, kami yakin dan percaya bahwa menurut pandangan dan penilaian Allah, berdua saja adalah komposisi yang lengkap sudah untuk disebut keluarga kece, harmonis, dan keren abis :p

Selama 5 tahun menikah, sebagai istri, saya merasa masih belum maksimal menjadi istri ideal. Masih jauuh. Self-assessment ini muncul karena saya menyimak beberapa cerita rumah tangga keluarga, teman, temannya teman, juga mengamati cerita rumah tangga publik figur yang bisa dengan gampang diakses lewat media sosial dan dengan sengaja mereka tampakkan sendiri.

Dari cerita-cerita yang saya simak dan saya pelajari, saya menyimpulkan bahwa sebagian besar suami (yang sholeh) nyaris tak pernah mengeluh kepada istri, terutama untuk urusan rumah tangga. Beberapa teman saya yang sudah punya anak bercerita bahwa suami mereka sama sekali tak pernah baper alias bawa perasaan saat dikasih giliran jaga anak. Salah seorang teman saya punya prinsip untuk tidak mau merepotkan orang tua maupun mertua dengan menitipkan anak kecuali terpaksa. Dia bilang: "Cukuplah orang tua repot saat menjaga kita waktu kecil. Sekarang, secapek dan sengantuk apapun setelah bekerja, anak harus kita yang jaga". Salute and my applause goes to my friend's principle.

Lelaki, atau dalam tulisan ini lebih spesifik ke kaum suami, theoretically memang bukan kaum yang dikit-dikit baper trus mengeluhkan apa-apa yang mereka rasakan. Bukannya mereka tidak punya perasaan ya khaan. Hanya saja, para suami (yang sholeh dan tau diri hahaha) sepertinya menganggap bahwa mengeluh bukanlah porsi mereka. Berkeluh kesah adalah porsi kami, kaum istri. Ya, saya mengaku bahwa sebagai istri, saya masih seriiing sekali jadi makhluk tidak bersyukur. 

Kata teman saya yang sudah membaca buku berjudul Mars vs Venus, umumnya perempuan ya memang seperti itulah. We share whatever we have in our mind to our husband, with the intention he'd listen to our complaints. Sedangkan lelaki, manakala menampakkan wajah seperti lagi punya masalah, sebagai istri, kita tak perlu mendesak mereka dengan pertanyaan supaya cerita lagi ada masalah apa. Selain mungkin masalahnya sangat tidak penting menurut kita (misal: tim bola paporit kalah, ish apa banget kan hahaha), laki-laki mungkin menganggap bahwa talking about it won't solve it. Anyway, kadang kita sebagai istri kan suka penasaran yaa ada apakah gerangan sehingga akhirnya jadi cerita juga karena kalo gak cerita diambekin hohoho *berdasarkan kisah nyata :p Well. Opposite attracts, no?

So, apakah suami kawan-kawan kaum istri sekalian malah jadi pihak yang lebih sering mengeluh? Artinya sebagai istri, sedang dikasi jatah ladang amal yang lebih luas tuh :D

Atau, apakah suami kawan-kawan kaum istri seperti suami saya yang nyaris tak pernah mengeluh? Well, that's what husbands do. Gak perlu disanjung-sanjung dan dibangga-banggakan kesana sini di seantero negeri seolah-olah suami kamuh ajyaaa yang flawless seperti itu, because again, that's what husbands do, that's what husbands are supposed to do ;) Walaupun demikiaaan, sebagai kaum istri, marilah kita pun mengurangi kebiasaan baper dan mengeluh kita dalam hal apapun. 

Yang paling penting, sebisa mungkin, jangan biasakan bercerita tentang kekurangan pasangan masing-masing ke orang lain, kecuali kalau dalam rangka ikhtiar mencari solusi demi rumah tangga yang awet hingga ke syurga. Urusan rumah tangga idealnya cukup jadi konsumsi yang menghuni rumah itu. Bahkan lebih sempit lagi, cukuplah jadi konsumsi yang menghuni kamar tidur alias kita dan suami saja kalo misalkan penghuni rumahnya tak cuma berdua. So far, itulah yang kami (saya dan suami) berusaha terapkan. 

Baiklah, cukup panjang sudah tulisan ini. Semoga bermanfaat yaa untuk bekal membina rumah tangga terutama buat teman-teman yang akan menikah sebentar lagi. Untuk yang nikahnya sudah lebih lama dan jauh lebih berpengalaman daripada saya, semoga bermanfaat juga yaah minimal buat senyum-senyum kalau membaca bagian yang tak sesuai praktek hahaha. See you soon in another posts ;)

You Might Also Like

0 comments