about us

Unspoken Question

15:58

Hari ini adalah hari ke 24 kehidupan saya dan keluarga tak lagi dihiasi dengan senyum dan canda dari bapak. Sejak bapak kembali menghadap ilahi, saya semakin tak ingin lama-lama jauh dari suami. Selama 3 tahun pernikahan kami, saya memilih untuk di rumah saja, tidak ikut suami ke warnet tempat Allah menitipi rezeki untuk kami. Sekitar sepekan setelah bapak tiada, saya mulai berfikir untuk ikut suami bekerja. Pertama, saya khawatir jika di rumah sendiri, saya jadi lebih gampang menangis lantas larut dalam kesedihan. Karena di hari pertama kami tiba di Sekadau, itulah yang sempat terjadi pada saya :( 

24 tahun tinggal bersama bapak dan 3 tahun tak pernah putus komunikasi baik lewat telepon dan sms, bukan perkara mudah untuk tak terbayang kenangan bersama bapak. Dan jelas takkan mungkin terhapus kenangan-kenangan itu.

Beberapa teman yang melayat di hari bapak saya meninggal dunia melihat saya tak berlinang air mata. Memang tak ada tangisan hari itu. Saya tak menangis dari sejak mendampingi dan mentalkinkan bapak sampai bapak menghembuskan nafas terakhir, belum menangis ketika pulang untuk mengantar kunci rumah, belum juga menangis ketika orang-orang datang melayat. Tangisan saya yang pertama jatuh pukul 1.30 dini hari, ketika suami saya tiba dari Sekadau. Menangis sebentar. Kemudian menangis lagi ketika menshalati bapak, hanya sedikit. Dan tangisan yang cukup panjang saat dan sesudah bapak dimakamkan. Saat itulah saya menyadari bahwa saya takkan lagi berjumpa dengan bapak di dunia.

Hari-hari berikutnya hingga hari ini, tak seharipun saya lewatkan tanpa berdoa untuk bapak, doa yang diiringi tangisan yang mengalir begitu saja. Hampir setiap selesai shalat, saya berdoa sembari menangis. Bukan karena saya tak ikhlas dan ridho Allah telah mengambil bapak kembali, Insya Allah kami sekeluarga ikhlas dengan ketetapan dan takdir Allah. 

Ada sebuah pertanyaan yang belum sempat saya ajukan ke bapak, tapi saya punya keyakinan bahwa saya tau jawaban dari bapak. Yaitu pertanyaan mengenai alasan bapak langsung setuju tanpa banyak 'interogasi' ketika suami *yang waktu itu masih calon* saya melakukan ta'aruf keluarga. 

Waktu itu Juni 2010, suami saya silaturahim ke rumah untuk berkenalan dengan bapak dan ibu saya. Bapak saya saat itu sedang dinas kerja di luar kota, sehingga hanya ibu saya yang berjumpa dengan suami. Bapak hanya komunikasi lewat telepon dengan suami, dan *mungkin* tidak seperti ta'aruf keluarga pada umumnya yang mana calon si anak 'diinterogasi' sedemikian rupa, bapak saya saat itu bukannya menanyai sang calon mantu, malah bercerita tentang kegiatan yang sedang bapak ikuti sehingga yang terdengar oleh saya saat itu adalah 2 pria ini seperti sudah kenal lama hehehe. Sekitar sebulan kemudian, saya pun dilamar. 

Saya penasaran mengapa bapak bisa tsiqoh 'menyerahkan' anak perempuan semata wayang yang sangat dicintai dan dibanggakannya ini kepada seorang lelaki tanpa banyak interogasi. An unspoken question. Firasat orang tua kah? Atau mungkin bapak saya tsiqoh dengan ibu saya yang langsung 'klik' dengan suami saya. Saya yakin keduanya. Dan sungguh, bapak tak salah dengan keputusannya menikahkan saya dengan lelaki seperti Abang Priana Ashri :')


Terima kasih, bapak...
Terima kasih yang sangat banyak, yang tak kan cukup untuk mengganti cinta dan segala kebaikan yang bapak berikan untuk kami...

You Might Also Like

3 comments

  1. Innalillahi wa innailaihi rojiun..kk turut berduka dini..maaf kk nd bs dtg melayat pd wkt itu. Semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah SWT. Beliau pernah mngajarkan kk dulu di bimtek diknaa...beliau bernyanyi brcerita smgt skali:) subhanallah...almarhum pasti bangga punya anak seperti dini..dan sgt prcaya pd pilihan dini

    ReplyDelete
  2. Saya baru tau klo mb dini ankny Pak Zamhur....wali kelas sy yg sll ceria. Suka guyon....kenangan dibimbing beliau plg seru slm.SMA...smg beliau ditmptkn di posisi terbaik dsana....

    ReplyDelete