learning

Nikah kok gak ngundang-ngundang?

07:26

"Waduuuh, udah nikah ya? Kok gak ngundang-ngundang?"

Pertanyaan begitu mestilah tak asing terutama bagi pasangan pengantin baru. Saya sendiri pun pernah mengajukan pertanyaan di atas, terutama kalau yang menikah adalah orang dekat, atau pernah menjadi orang dekat, misal: pernah 1 liqo, pernah menjadi murobbiyah, atau pernah dekat ketika 1 sekolah/kampus, tapi sayanya jangankan diundang, dikabari aja tidak sama sekali *haha, kemudian curcol ;p*.

Namun lantas saya mereview persiapan pernikahan saya sendiri. Bagian membuat list undangan memang salah satu persiapan yang lumayan menguras energi dan pikiran.

Jarak masa khitbah menuju walimah saya adalah sekitar 6 bulan. Waktu yang relatif cukup untuk mempersiapkan hal-hal yang sudah saya buatkan wedding checklistnya. Gedung, dekorasi, tata rias, kostum, daftar undangan, dan lain-lain kami siapkan dalam kurun waktu 6 bulan. And I do really need you all to know, bahwa saya bisa dibilang sudah menyiapkan list daftar undangan bahkan sejak sebelum saya dikhitbah :D

Boleh kan? Toh sejak kelas 3 SMP saya sudah punya target mau menikah di usia 23. Sebagai perempuan berjiwa bervisioner *hatsaaah*, tak perlu menunggu dilamar dong untuk menentukan siapa-siapa saja yang akan saya undang ke resepsi pernikahan saya hahaha :P

Dan saya merekomendasikan persiapan ini untuk teman-teman terutama yang kini sudah masuk usia menikah. Usia menikah emangnya berapa? Yaa silakan gunakan standar sendiri. Kalau misalkan ada teman yang mengisengi dengan kalimat, "Lagian, umur sekiansekian belom kawin", mungkin udah bolehlaah ya dari sekarang siapkan list undangan minimal dari pihak sendiri walaupun belum tau kelak nikahnya dengan siapa hihi ^^v

Supaya gampang, ketika siapkan daftar undangan, buatlah kategori-kategori. Misal, guru dan dosen, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman kerja (atasan/rekan/bawahan), orang tuanya teman akrab (terutama yang sudah kenal kita), teman-teman yang pernah 1 halaqoh, para binaan yang kira-kira perlu diundang atau minimal dikasitau *hatchiiiim*, dan kategori-kategori lain. 

Jangan lupa cross check sekiranya ada nama yang sama di kategori berbeda untuk menghindari pemborosan kartu undangan. Bikin yang kayak begini kalau dari jauh-jauh hari gak akan memicu stress kok. Malah kita bisa sembari nostalgia tanpa sadar loh, bisa senyum-senyum sendiri mengingat kekonyolan di masa silam *kemudian curcol melulu*. Plus, bikin daftar undangan ini bisa disambil. Misal, di sela istirahat kerja, ketika nunggu antrian di bank, lagi di bis, dll. Dulu, saya bikinnya sambil nunggu jam ngajar berikutnya. Beres dengan koreksian, bikin coret-coretan deh untuk daftar undangan.

Khawatir terlewat orang-orang penting untuk diundang? Tenang, sekarang mah udah canggih. Ada Facebook yang bisa kita dayagunakan untuk menyortir nama-nama yang akan kita undang atau sekedar kita beritau. Bisa juga cek daftar kontak di ponsel atau email. Atau, kalau sekolah ngasi buku alumni dan masih disimpan, sekaranglah saatnya gunakan buku itu ;)

Anyway, bahkan dengan persiapan begitu pun, masih ada saja kemungkinan nama-nama yang terlewat dari daftar undangan. Dan ketika pertanyaan, "Kok gak ngundang-ngundang?" terlontar, rasanya itu....auuuw salting gimancee gitcuh. Rasanya pengen dijawab, "Siapa elo?" tapi ntar digampar hahahaha *kidding yes*.

Maka, sekarang setelah merasakan gak enak hati ketika ditanyai "Kok nikah gak ngundang-ngundang?" oleh orang yang derajat kedekatannya biasa aja dan belum pernah punya sejarah dekat, saya mulai berhati-hati mengajukan pertanyaan tersebut. Supaya aman, didoakan saja agar pernikahannya berkah.

Lagipula, tak diundang di acara walimah oleh orang yang menurut kita minimal bersedia mengabari berita pernikahannya pun bisa jadi media buat belajar ikhlas, ya khaaan?

Baiklah. Selamat membuat daftar undangan buat teman-teman yang menanti hari bahagia, baik yang sudah ada tanggalnya maupun yang masih dirahasiakan Allah. Nama saya masukkan di baris pertama kategori 'Akhwat Kewl' ya ;P

You Might Also Like

1 comments

  1. iyeeeeeeessss....pernah loh din, kk ketemu teman SD, setelah cipika cipiki...dia nanya kabar, trus langsung bilang gini "awas ye nikah tak ngundang2"...dan dengan sangat nyantainya kk jawab "lah..situ nikah aja gak ngundang2 saya". wakakakakaka. jangan ditiru!!! *lalu ikutan curcol* haahaha
    tapi, intinya sih emang kita harus berhati2 brtanya tentang masalah kapan nikah, kapan hamil, atau pertanyaan pribadi lainnya.soalnya khawatir menyinggung dan membuat sakit hati.
    pernah di sebuah acara pernikahan (kedua) seorang teman, bertemu dengan teman yang lain. dan si teman yang lain itu dengan santainya bertanya sambil menujuk "kak retno, tuh kak **** jak udah 2 x nikah. kk satu kali pun belum kapan lah nih kak???" *apa yang akan anda lakukan kalau jd saya? pengen ngeremes mulutnya*. tapi itu tak saya lakukan, yg saya lakukan adalah sambil tertawa sinis saya bilang "sejujurnya dari hati yang paling dalam saya hanya mau bilang, pertanyaan kamu menorehkan luka di hati saya" *lalu curcolnya panjang kan*.
    untuk hal ini saya sangat setuju dengan orang barat, bahwa sangat tidak sopan bertanya tentang kapan nikah dan kapan hamil, kenapa gak sekalian nanya kapan mati kan??? hehehe.
    eh tapi, kalau sama pasangan yang ketahuan pacaran, saya tak akan ragu bertanya kapan mereka meresmikan hubungan. tapi menahan diri bertanya perihal kapan nikah dengan orang yang saya tahu menjaga dirinya dan menolak aktifitas pacaran. hehhehehe
    *curcol berkelanjutan*

    ReplyDelete