thankfulness

Nikah Balapan

01:51

@TweetNikah pernah posting tweet begini:

"Nikah bukan balapan, itu tentang kebahagiaan hidup masa depan".

Couldn't agree more.

Beberapa tahun silam, saya sempat menjadi makhluk menyebalkan yang doyan mengajukan pertanyaan: "Kapan nyusul" ke beberapa orang yang belakangan saya sadar bukanlah orang yang layak diajukan pertanyaan demikian. Simply, just like I posted on my facebook status few days ago:

Memang baiknya kita menahan diri untuk mengajukan pertanyaan "Kapan nikah? Kapan nyusul?" ke rekan-rekan yang sudah ikhtiar, baik lewat guru ngaji, lewat teman, atau lewat ortu untuk cari pasangan buat dinikahi. Pertanyaan "kapan nikah", menurut saya, hanya layak diajukan ke mereka yang udah pacaran bertahun-tahun tapi tak juga kunjung menikah hehe *peace ^^v Tapi sama2 mendoakan ya, agar yang belum halal dimudahkan Allah untuk ke pelaminan. Yang sudah ingin menikah tapi belum dijumpakan dengan jodohnya, agar semakin diberikan kesabaran + segera Allah jumpakan. Aamiin.

Setuju ya? :D

Karena pernikahan memang bukan balapan. Saya pernah membaca tweet, apa facebook status, yang jelas saya baca di social media, isinya kurang lebih begini: bahwasanya datangnya jodoh itu seperti menanti adzan magrib jelang berbuka puasa. Di Indonesia wilayah Timur, adzannya lebih awal 2 jam dari adzan di Indonesia bagian Barat. Bahkan di Indonesia bagian Barat pun, rentang waktu adzannya bisa berbeda beberapa menit. Kira-kira demikianlah analoginya yang pada intinya, jodoh akan tiba ketika kita sudah siap untuk berbuka puasa *lohhh :P

Pernikahan, terutama bagi teman-teman yang sudah memenuhi semua syarat pernikahan kecuali syarat utamanya yang belom: pasangan, sudah pasti merupakan sesuatu yang sangat dinantikan. Bahkan mungkin sudah terbayang di pelupuk mata, nanti konsep acara pernikahan ingin seperti apa. 

Saya pribadi pernah juga ditanyai "Kapan nikah, kapan nyusul, kapan nyebar undangan" dan sejenisnya ketika belum menikah. Namun jelas berbeda, karena pertanyaan itu diajukan ketika saya masih bisa ngeles: mau selesaikan kuliah dulu. Dan tak lama setelah kuliah saya kelar, alhamdulillah saya dikhitbah sehingga ketika pertanyaan "Kapan nikah, kapan nyusul, kapan nyebar undangan" muncul, saya sudah punya tanggal pernikahan dan siap tersenyum bahagia menanti sang penanya menyalami saya di pelaminan. 

Menjadi hal yang akan menyesakkan dada ketika pertanyaan "Kapan nikah, kapan nyusul, kapan nyebar undangan" berulang kali diajukan *baik oleh orang yang sama ataupun orang yang belum tentu akan dapat undangan pernikahan kita hehe :p*. Dan diajukan kepada individu yang kita tau berprinsip untuk tidak pacaran sebelum menikah pula. Jawaban paling klasik yang akan diterima pastilah berkisar, "Doain ya, Mohon doanya ya semoga segera dijumpakan (dengan jodohnya)". Bakalan jarang deh yang ngasih jawaban, "Nanti dulu deh, masih pengen sendiri". 

Maka marilah kita sedikit belajar ilmu Pragmatics, belajar memperhatikan konteks sosial perihal tanya-tanyaan "Kapan nikah, kapan nyusul, kapan nyebar undangan" ini. Karena bisa saja pertanyaan yang kita anggap singkat dan sederhana untuk dijawab itu menjadi pemicu rusaknya mood orang lain di hari ketika ia sedang merasa sangat bahagia. So, be wise :)

You Might Also Like

1 comments

  1. Anda benar....nelangsa,sedih,takut...campur aduk semua rasa kalau ada yg nanya pertanyaan itu. Dan ditambah sakit hati, kalau ada tambahan statement 'makanya jangan pilih2'. Rasa mau nangis kalau digituin

    ReplyDelete