february

Home is Where Your Husband Is

19:52

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat curhat pada beberapa orang sahabat, menyampaikan keinginan saya untuk kembali menetap di Pontianak.

Alasan apa yang saya tidak punya untuk menetap di Pontianak? Nyaris semua cita-cita saya ada di sana. Semua sahabat terbaik saya ada di sana. Bahkan orang tua saya pun di sana. 

Maka saya pun mengajukan diri kepada suami agar diizinkan untuk pindah ke Pontianak. Suami saya awalnya berat untuk mengizinkan mengingat masih banyak amanah yang dititipkan di Sekadau. Terutama amanah dakwah. 

Tak segampang itu saya menyerah. Saya terus membujuk suami saya sampai bisa. Saya ajukan alternatif, agar yang pindah hanya saya, supaya saya bisa bekerja di Pontianak, sembari menabung untuk melanjutkan beberapa cita-cita saya. Toh di Pontianak saya juga sudah punya tempat tinggal. Tak harus menumpang dengan orang tua. Membayangkan akan hidup terpisah jarak Pontianak - Sekadau saja suami saya sudah resah gelisah, apalagi menjalaninya. Maka saya masih belum dapat izin juga.

Saya kembali meyakinkan, bahwa untuk meraih cita-cita, terkadang memang ada beberapa hal yang harus dikorbankan. Beberapa tahun LDR (Long Distance Relationship), gonna be worth one day. Ketemuan sepekan sekali, atau 2 pekan sekali, akan jadi hal yang seru. Kan jadi ada kangennya. Begitu saya meyakinkan suami saya.

Akhirnya suami saya mengalah. Akhir tahun lalu, saya sudah bersemangat dan mengambil ancang-ancang untuk pindah ke Pontianak. Bahagianya membayangkan bahwa saya akan kembali bekerja seperti ketika saya belum menikah, akan lebih mudah jika ingin berjumpa dengan orang tua dan para sahabat terbaik, dan yang jelas, akan menabung dengan uang sendiri demi menggapai cita-cita!

Seiring waktu berlalu, saya seolah mendapat 'peringatan' dari Allah. Sebuah peringatan tentang Mitsaqan Ghaliza, perjanjian amat berat yang diikrarkan suami saya 2 tahun lalu ini bukan perjanjian main-main. Ini adalah 'serah-terima' amanah dari bapak kepada lelaki yang kemudian berstatus suami. SUAMI. Suami, yang statusnya kini bahkan lebih tinggi daripada orang tua. 



"Tidak ada hak yang lebih wajib ditunaikan seorang wanita, setelah hak Allah daripada hak SUAMI" - Syaikhul Islam

"Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya" (HR. At Tirmidzi)

Saya pun terhenyak. Padahal saya sudah lama tau tentang hadits di atas, saya sudah sering membaca dan mendengar di kajian-kajian tentang kewajiban istri terhadap suami, tentang wajibnya istri taat pada suami, tentang tanggung jawab istri terhadap rumah tangganya.

Maka, jika nanti saya tinggal di Pontianak, suami tinggal di Sekadau, sementara saya berada dalam kondisi BISA memilih untuk tetap tinggal di Sekadau, bagaimana tanggung jawab saya di hadapan Allah kelak? Bagaimana jika nanti saya ditanya: "Mengapa kau biarkan suamimu pulang mencari nafkah tanpa ada dirimu menyambutnya di rumah?"

Ya, keinginan suami saya memang tidak muluk-muluk. Tak pernah sekalipun saya dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga seorang diri. Kami berusaha berta'awun untuk urusan rumah tangga. Keinginan suami saya hanyalah: Pulang ke rumah, disambut dengan senyuman istri. That's it. 

Dan dengan keinginan se-ringan itu, sungguh kejam rasanya jika saya masih menurutkan ego diri untuk 'cita-cita dunia' yang kapan-kapan bisa saya wujudkan. Bahkan bisa diwujudkan berdua bersama suami instead of berjuang sendiri di tempat yang berbeda. Ah, bahkan jika tidak terwujud pun sebetulnya tidak melanggar syari'at manapun :|

Ketika umroh kemarin pun, saya perbanyak istikharah, saya perbanyak munajat pada Allah untuk menetapkan hati saya agar kian yakin dengan pilihan yang saya ambil.

"Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) tentang mereka (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Semoga pilihan untuk tetap menemani suami berdakwah di Kabupaten Sekadau ini akan membuat suami saya lebih mudah menjawab ketika kelak Allah mintai pertanggungjawaban :)

Last but not least, Home is where your husband is...


You Might Also Like

5 comments